top of page

Industri Diminta Hemat Energi Di Tengah Ancaman Krisis Global

  • Gambar penulis: bspji palembang
    bspji palembang
  • 1 Apr
  • 2 menit membaca
Foto: dok Kemenperin
Foto: dok Kemenperin

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengimbau pelaku industri nasional untuk melakukan efisiensi dan penghematan energi secara terencana di tengah meningkatnya risiko krisis global, khususnya akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.


Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan dinamika konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi mengganggu jalur perdagangan strategis dunia, seperti Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur utama distribusi energi global.


“Potensi gangguan pasokan dan kenaikan harga energi global perlu diantisipasi sejak dini oleh pelaku industri. Salah satunya melalui langkah efisiensi energi agar operasional tetap berjalan optimal,” kata Febri di Jakarta, Selasa (31/3/2026).


Menurutnya, langkah penghematan energi menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan produksi sekaligus meminimalkan dampak terhadap biaya operasional industri di tengah ketidakpastian global.


Meski menghadapi tekanan eksternal, kinerja industri manufaktur nasional masih menunjukkan ketahanan. Hal ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Maret 2026 yang berada di level 51,86 atau masih dalam fase ekspansi.


Namun demikian, laju pertumbuhan industri mulai melambat dibandingkan bulan sebelumnya seiring normalisasi permintaan pasca periode hari besar keagamaan serta adanya penyesuaian produksi akibat penumpukan stok.


Selain faktor global, tekanan juga datang dari meningkatnya biaya logistik dan harga bahan baku. Kondisi ini turut memengaruhi sejumlah subsektor industri, terutama yang memiliki ketergantungan terhadap impor bahan baku dan energi.


Untuk itu, Kemenperin mendorong pelaku industri tidak hanya melakukan efisiensi energi, tetapi juga meningkatkan ketahanan melalui diversifikasi sumber bahan baku dan penguatan rantai pasok dalam negeri.



“Kami mendorong industri untuk lebih adaptif, termasuk mengurangi ketergantungan terhadap impor dan memperkuat struktur industri dari hulu hingga hilir,” ujarnya.


Di sisi lain, pemerintah terus mengoptimalkan pasar domestik sebagai penopang utama pertumbuhan industri nasional, sekaligus menjaga utilisasi kapasitas produksi tetap stabil.


Febri menegaskan bahwa pelaku industri dalam negeri memiliki pengalaman dan daya tahan dalam menghadapi berbagai krisis global sebelumnya, sehingga diyakini mampu beradaptasi di tengah tantangan saat ini.


“Dengan langkah efisiensi dan strategi yang tepat, industri nasional diharapkan tetap tumbuh dan berdaya saing di tengah dinamika global,” kata Febri.


Kemenperin memastikan akan terus memantau perkembangan global serta menyiapkan kebijakan yang adaptif guna menjaga stabilitas dan keberlanjutan sektor industri manufaktur nasional.



 
 
 

Komentar


bottom of page